SEJARAH EKONOMI INDONESIA
Kelas :
1EB19
Kelompok :
3
Disusun Oleh :
Cornelyus Agung (21216644)
Eka Rohyati Ramadani (22216274)
Sinta Putri Utami (27216062)
Sri Winarti (28216015)
UNIVERSITAS GUNADARMA
2017
Sejarah Ekonomi
Indonesia
1. Sejarah
pra kolonialisme ekonomi di Indonesia
Yang dimaksud dengan
periode Pra-Kolonialisme adalah masa – masa berdirinya kerajaan –kerajaan di
wilayah Nusantara (abad ke 5 abad ke 17) dimana padamasanya RI
di pimpinoleh kerajaan kerajaan. Indonesia
terletak di posisi geografis antara benua Asia dan Eropa serta samudra Pasifik
dan Hindia, sebuah posisi yang strategis dalam jalur pelayaran niaga antar
benua,Perdagangan laut antara India, Tiongkok, dan Indonesia
dimulai pada abad pertama sesudah masehi, demikian juga hubungan Indonesia
dengan daerah-daerah di Barat (kekaisaran Romawi).
Perdagangan di masa kerajaan-kerajaan tradisional disebut
oleh Van Leur mempunyai sifat kapitalisme politik, dimana pengaruh raja-raja
dalam perdagangan itu sangat besar. Misalnya di masa Sriwijaya, saat
perdagangan internasional dari Asia Timur ke Asia Barat dan Eropa, mencapai
zaman keemasannya. Raja-raja dan para bangsawan mendapatkan kekayaannya dari
berbagai upeti dan pajak. Tak ada proteksi terhadap jenis produk tertentu,
karena mereka justru diuntungkan oleh banyaknya kapal yang “mampir”.Penggunaan uang yang berupa koin emas dan koin perak
sudah dikenalpadamasaitu,namun pemakaian uang baru mulai dikenal di masa
kerajaan-kerajaan Islam, misalnya picis yang terbuat dari timahNamun penggunaan
uang masih terbatas, karena perdagangan bersistembarter masih di gunakandalam
system perdagangan Internasional. Karenanya, tidak terjadi surplus atau defisit
yang harus diimbangi dengan ekspor atau Impor logam mulia.
Di masa pra kolonial, pelayaran niaga lah yang cenderung
lebih dominan. Namun dapat dikatakan bahwa di Indonesia secara keseluruhan,
pertanian dan perniagaan sangat berpengaruh dalam perkembangan perekonomian
Indonesia
Pada
saat system pemerintahan masih
berbentuk feudal. Kegiatanutama perekonomian adalah:
• Pertanian, umumnya monokultura, misalnya padi di Jawa dan
rempah
• rempah di Maluku.
• Eksplorasi hasil alam, misalnya hasil laut, hasil
tambang, dll.
• Perdagangan besar antarpulau dan antarbangsa yang sangat
• mengandalkan jalur laut
2.
Sistem Monopoli VOC
Pemerintah penjajahan Belanda belum sempat menyempurnakan bekerjanya
badan mereka yang baru ketika Jepang memasuki indonesia dan mengambil alih VMF
sampai akhir perang Dunia II.
Persaingan perdagangan yang
terjadi antar bangsa Eropa di Indonesia sangat merugikan Belanda. Oleh karena
itu, timbul pemikiran pada orang-orang Belanda agar perusahaan-perusahaan yang
bersaing itu menggabungkan diri dalam satu organisasi. Akhirnya mereka
membentuk Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC) artinya Perserikatan
Maskapai Hindia Timur. VOC terbentuk pada tanggal 20 Maret 1602 Di Indonesia
1.
Tujuan
pembentukan VOC sebenarnya tidak hanya untuk menghindari persaingan di antara
pedagang Belanda, tetapi juga:
2.
menyaingi
kongsi dagang Inggris di India, yaitu EIC (East India Company),
3.
menguasai
pelabuhan-pelabuhan penting dan kerajaan-kerajaan, serta
4.
melaksanakan
monopoli perdagangan rempah-rempah.
Di Indonesia, VOC berusaha
mengisi kas keuangannya yang kosong. VOC menerapkan aturan baru yaitu Verplichte
Leverantie atau penyerahan wajib. Tiap daerah diwajibkan menyerahkan hasil bumi
kepada VOC menurut harga yang telah ditentukan.Agar dapat melaksanakan tugasnya
dengan leluasa VOC diberi hak-hak istimewa oleh pemerintah Belanda :
1.
Memonopoli
perdagangan
2. Mencetak dan mengedarkan uang
3. Mengangkat dan memperhentikan
pegawai
4. Mengadakan perjanjian dengan
raja-raja
5. Memiliki tentara untuk
mempertahankan diri
6. Mendirikan benteng
7. Menyatakan perang dan damai
Mengangkat dan memberhentikan
penguasa-penguasa setempat.
Peraturan-peraturan yang
ditetapkan VOC dalam melaksanakan monopoli perdagangan antara lain :
1. Verplichte Laverantie yaitu penyerahanwajibhasilbumi
2. Contingenten
3. Rakyatwajibmembayar pajak berupa hasil bumi
4. Peraturan tentang ketentuan
areal dan jumlah tanaman rempah-rempah yang boleh ditanam.
5. Ekstirpasihak VOC untuk
menebang tanaman rempah-rempah agar tidak terjadi overproduksi yg dapat
menyebabkan harga rempah-rempah merosot.
6. Pelayaran Hongi yaitu pelayaran dengan perahu
kora-kora (perahu perang) untuk mengawasipelaksanaan monopoli perdagangan VOC
dan menindak pelanggarnya.
Hasil bumi yang wajib diserahkan yaitu lada, kayu
manis, beras, ternak, nila, gula, dan kapas. Selain itu, VOC juga menerapkan
Prianger stelsel, yaitu aturan yang mewajibkan rakyat Priangan menanam kopi dan
menyerahkan hasilnya kepada VOC.
3. Sistem Tanam Paksa
Pengertian Tanam Paksa
Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel), merupakan peraturan yang dikeluarkan Gubernur
Jenderal Johannes van den Bosch pada tahun 1830 yang mengharuskan setiap
desa menyisihkan 20% tanahnya untuk ditanami komoditi yang laku dipasar ekspor,
khususnya tebu, tarum (nila) dan kopi. Hasil tanaman ini nantinya harus dijual
kepada pemerintah belanda dengan harga yang telah ditetapkan. Sedangkan
Penduduk desa yang tidak punya tanah harus bekerja selama 75 hari setiap tahun
(20% dari 365 Hari) pada perkebunan milik pemerintah belanda, hal tersebut
menjadi semacam pengganti pajak bagi rakyat.
Namun pada
kenyataannya peraturan Sistem
Tanam Paksa (Tanam
Paksa) bisa dikatakan tidak sesuai karena pada prakteknya
seluruh wilayah pertanian wajib ditanami tanaman yang laku ekspor dan
hasilnya diserahkan kepada pemerintahan Kolonial. Tanah yang digunakan untuk
praktik Tanam Paksa pun masih dikenakan pajak (seharusnya bebas
pajak). Sedang Warga yang tidak mempunyai lahan pertanian harus bekerja selama
setahun penuh (seharusnya hanya 75 hari) di lahan pertanian Belanda.
Sejarah dan Latar Belakang
Tanam Paksa
Pada tahun 1830 saat pemerintah belanda hampir bangkrut setelah terlibat
Perang Diponegoro (1825-1830), kemudian Gubernur
Jenderal Judo mendapat izin untuk menjalankan CultuurStelsel
(sistem Tanam Paksa) dengan tujuan utama untuk menutup defisit anggaran
pemerintah penjajahan dan mengisi kas pemerintahan jajahan yang saat itu
kosong.
Untuk menyelamatkan Negeri Belanda dari kebrangkrutan, kemudian Johanes van
den Bosch diangkat sebagai gubernur jenderal di Indonesia dengan tugas pokok
mencari dana semaksimal mungkin untuk mengisi kas negara yang kosong, membiayai
perang serta membayar hutang. Untuk mnjalankan tugas yang berat tersebut, Gubernur Jenderal Van den Bosch mmfokuskan
kebijaksanaannya pada peningkatan produksi tanaman ekspor.
Awal adanya Sistem tanam paksa karena pemerintal kolonial beranggapan bahwa
desa desa di Jawa berutang sewa tanah kepada pemerintah kolonial, yang
seharusnya diperhitungkan (membayar) senilai 40% dari hasil panen utama desa.
kemudian Van den Bosch menginginkan setiap desa menyisihkan sebagian tanahnya
untuk ditanami komoditi yang laku di pasar ekspor Eropa (tebu, nila dan kopi).
Penduduk kemudian wajibkan untuk menggunakan sebagian tanah pertaniannya
(minimal 20% atau seperlima luas) dan menyisihkan sebagian hari kerja (75 hari
dalam setahun) untuk bekerja bagi pemerintah.
Dengan menjalankan tanam paksa, Pemerintah Kolonial beranggapan desa akan
mampu melunasi hutang pajak tanahnya. Seandainya pendapatan desa dari penjualan
komoditas ekspor itu lebih besar dari pajak tanah yang harus dibayar, desa akan
mendapat kelebihannya. namun Jika kurang, desa harus membayar kekurangannya.
Oleh karena itu, Van den Bosch mengerahkan rakyat jajahannya
untuk melakukan penanaman tanaman yang hasilnya dapat laku di pasaran ekspor.
Berikut Sistem yang disusun Van den Bosch Setibanya di Indonesia (1830).
·
Sistem tanam bebas harus dirubah
menjadi tanam wajib dengan jenis tanaman yang telah ditentukan oleh pemerintah.
·
Sistem sewa tanah dengan uang harus
dihapus karena pemasukannya sedikit serta pelaksanaannya yang sulit.
·
Pajak terhadap tanah harus dibayar
dengan menyerahkan sebagian dari hasil tanamannya kepada pemerintah kolonial.
Tanam paksa sendiri diterapkan secara perlahan muali tahun 1830 sampai
1835. Menjelang tahun 1840 sistem ini telah berjalan sepenuhnya di Jawa.
Bagi pemerintah kolonial (Belanda), Sistem Tanam Paksa menuai sukses besar.
Karena antara 1831-1871 Batavia tidak hanya dapat membangun sendiri, tapi punya
hasil (laba) bersih 823 juta gulden untuk kas yang dikirim ke Kerajaan Belanda.
Menurut informasi dari Wikipedia, Umumnya 30% anggaran belanja Kerajaan
Belanda berasal dari kiriman Batavia. Bahkan Pada tahun 1860-an, 72% penerimaan
Kerajaan Belanda didapat dari Oost Indische (Hindia Belanda). Pada saat itu
Batavia menjadi sumber modal Kerajaan Belanda untuk membiayaai
proyek-proyeknya. Misalnya, untuk membiayai kereta api di Belanda yang saat itu
serba mewah.
Sistem tanam paksa yang kejam ini, akhirnya dihapus pada tahun
1870 setelah memperoleh protes keras dari berbagai kalangan di Belanda,
meskipun pada kenyataannya Sistem Tanam Paksa untuk tanaman kopi di luar Jawa
masih berjalan hingga tahun 1915. Program tersebut (Sistem Tanam Paksa)
dijalankan dengan nama sistem sewa tanah dalam UU Agraria 1870.
Aturan dan ISi Tanam Paksa
Aturan dan ISi Tanam Paksa - Sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) yang
dilaksanakan oleh Gubernur Jenderal Van den Bosch pada dasarnya adalah gabungan
dari sistem pajak tanah (Raffles) dan sistem tanam wajib (VOC). berikut Isi Tanam Paksa
·
Setiap rakyat Indonesia yang punya
tanah diminta menyediakan tanah pertanian yang digunakan untuk cultuurstelsel
(Tanam Paksa) yang luasnya tidak lebi 20% atau seperlima bagian dari tanahnya
untuk ditanami jenis-jenis tanaman yang laku di pasar ekspor.
·
Waktu untuk menanam Sistem Tanam
Paksa tidak boleh lebih dari waktu tanam padi atau kurang lebih 3 (tiga)
bulan
·
Tanah yang disediakan terhindar
(bebas) dari pajak, karena hasil tanamannya dianggap sebagai pembayaran
pajak.
·
Rakyat indonesia yang tidak
mempunyai tanah pertanian bisa menggantinya dengan bekerja di
perkebunan, pengangkutan atau di pabrik-pabrik milik pemerintah
kolonial selama seperlima tahun atau 66 hari.
·
Hasil tanaman harus diberikan kepada
pemerintah Koloni. Apabila harganya melebihi kewajiban pembayaran pajak maka
kelebihannya harga akan dikembalikan kepada petani.
·
Penyerahan teknik pelaksanaan aturan
Sistem Tanam Paksa kepada kepala desa
·
Kegagalan atau Kerusakan sebagai
akibat gagal panen yang bukan karena kesalahan dari petani seperti
karena terserang hama atau bencana alam, akan di tanggung pemerintah
Kolonial.
Dampak dan Akibat Sistem
Tanam Paksa
Dampak dan Akibat Tanam Paksa - Pelaksanaan tanam paksa banyak menyimpang
dari aturan sebenarnya dan memiliki kecenderungan untuk melakukan eskploitasi
agraris semaksimal mungkin. Oleh sebab itu, Tanam Paksa menimbulkan akibat yang
bertolak belakang bagi Bangsa Indonesia dan Belanda, diantaranya adalah sebagai
berikut.
Bagi Indonesia
·
Beban rakyat menjadi sangat berat
karena harus menyerahkan sebagian tanah dan hasil panennya, mengikuti kerja
rodi serta membayar pajak .
·
Sawah ladang menjadi terbengkelai
karena diwajibkan kerja rodi yang berkepanjangan sehingga penghasilan menurun
drastis.
·
Timbulnya wabah penyakit dan terjadi
banyak kelaparan di mana-mana.
·
Timbulnya bahaya kemiskinan yang
makin berat.
·
Rakyat Indonesia mengenal tanaman
dengan kualitas ekspor.
·
Rakyat Indonesia mengenal teknik
menanam berbagai jenis tanaman baru.
Bagi Belanda
·
Kas Negeri Belanda yang semula
kosong menjadi dapat terpenuhi.
·
Penerimaan pendapatan melebihi
anggaran belanja (Surplus).
·
Hutang-hutang Belanda terlunasi.
·
Perdagangan berkembang pesat.
·
Amsterdam sukses dibangun menjadi kota
pusat perdagangan dunia.
Akhir Sistem Tanam Paksa
Tanam paksa yang berakibat banyak hal negative bagi
bangsa Indonesia, yang pada akhirnya menimbulkan reaksi keras dari berbagai
kalangan, baik di negeri Belanda sendiri maupun Indonesia, seperti berikut ini:
Eduard Douwes Dekker
Merupakan seorang pejabat Belanda yang pernah menjabat sebagai Asisten
Residen Lebak (Banten). Douwes Dekker cinta kepada penduduk pribumi, khususnya
yang sengsara karena tanam paksa. Menggunakan nama samaran Multatuli yang memiliki
arti 'aku telah banyak menderita', ia menulis buku berjudul Max Havelaar atau
Lelang Kopi Persekutuan Dagang Belanda (1859) yang menceritakan kesengsaraan
rakyat indonesia akibat Sistem Tanam Paksa.
Baron Van Hoevel
Merupakan seorang missionaris yang pernah tinggal di Indonesia (1847).
Dalam perjalanannya di Bali, Madura dan Jawa, ia banyak melihat kesengsaraan
rakyat akibat adanya Cultuurstelsel. Setelah pulang ke Belanda dan terpilih
menjadi anggota parlemen Ia sering melakukan protes terhadap pelaksanaan tanam
paksa, ia gigih dalam berjuang menuntut dihapusnya tanam paksa.
Akibat adanya protes tersebut, pemerintah Belanda secara bertahap
menghapuskan Tanam Paksa. Pada tahun 1865 Kayu Manis, Teh dan
Nila dihapuskan, Pada tahun 1866 tembakau, kemudian tebu pada tahun 1884.
Sedangkan Kopi merupakan Tanaman yang paling akhir dihapus, yaitu pada tahun
1917 karena Kopi paling banyak memberi keuntungan.
4. Sistem
Perekonomian Pasar Kapitalis Liberalis
Sistem Perekonomian Pasar (Liberalis / Kapitalis)Sistem
ekonomi liberal yaitu sistem ekonomi dimana ekonomi diatur oleh kekuatan
pasar(permintaan dan penawaran). Sistem ekonomi liberal adalah sistem
perekonomian yangmemberikan kebebasan sepenuhnya dalam segala bidang perekonomian
kepada masing-masing individu untuk memperoleh keuntungan yang
sebesar-besarnya. Sistem ekonomiliberal banyak dianut negara-negara Eropa dan
Amerika Serikat.
Ciri-ciri :
1.
Kedaulatan
konsumen dan kebebasan dalam konsumsi
2.
Menerapkan
sistem persaingan bebas
3.
Peranan modal
sangat penting
4. Peranan pemerintah dibatasi
Kelebihan
:
·
Setiap individu bebas memiliki alat produksi sendiri
·
Kegiatan ekonomi lebih cepat maju karena adanya
persaingan
·
Produksi didasarkan kebutuhan masyarakat
·
Kualitas barang lebih terjamin
Kekurangan
:
·
Sulit terjadi pemerataan pendapatan.
·
Menimbulkan monopoli
·
Rentan terhadap krisis ekonomi
·
Adanya eksploitasiSistem Perekonomian Perencanaan
(Etatisme / Sosialis)Sistem ekonomi sosialis yaitu sistem ekonomi dimana
ekonomi diatur negara.
Dalam
sistemini, jalannya perekonomian sepenuhnya menjadi tanggung jawab negara atau
pemerintahpusat. Dalam perekonomia ini yang menjadi dasar adalah Karl Marx ,
dia berpendapatbahwa apabila kepemilikan pribadi dihapuskan maka tidak akan
memunculkan masyarakatyang berkelas-kelas sehingga akan menguntungkan semua
pihak. Negara yang menganutsistem ini seperti Rusia, Kuba, Korea Utara, dan
negara komunis lainnya.Ciri-ciri :
·
Hak milik individu tidak diakui.
·
Seluruh sumber daya dikuasai negara.
·
Semua masyarakat adalah karyawan bagi negara.
·
Kebijakan perekonomian disusun dan dilaksanakan
pemerintah.
Kelebihan
:
·
Pemerintah lebih mudah ikut campur dalam pembentukan
harga.
·
Kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara merata.
·
Pelaksanaan pembangunan lebih cepat.
·
Pemerintah bebas menentukan produksi sesuai kebutuhan
masyarakat.
5.
Sejarah era pendudukan jepang
Pendudukan
Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada 17 Agustus 1945
bersama dengan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia
oleh Soekarno dan M. Hatta atas nama bangsa Indonesia.
Pada bulan Mei 1940, awal Perang Dunia II, Belanda
diduduki oleh Nazi Jerman. Hindia-Belanda mengumumkan keadaan siaga dan di Juli
mengalihkan ekspor untuk Jepang ke Amerika Serikat dan Inggris. Negosiasi
dengan Jepang yang bertujuan untuk mengamankan persediaan bahan bakar
penerbangan kegagalan pada bulan Juni 1941, dan Jepang memulai penaklukan Asia
Tenggara di bulan Desember tahun itu. Pada bulan yang sama, faksi dari Sumatra
penerima bantuan Jepang untuk mengadakan revolusi terhadap pemerintahan
Belanda. Pasukan Belanda yang terakhir dikalahkan Jepang Maret 1942.
Mengalami pendudukan Jepang di Indonesia bervariasi,
tergantung di mana seseorang hidup dan status sosial orang tersebut. Bagi
mereka yang tinggal di daerah yang dianggap penting dalam pertempuran, mereka
mengalami penyiksaan, perbudakan seksual yang terlibat, sewenang-wenang dan
penahanan hukuman mati, dan kejahatan perang lainnya. Campuran Belanda dan
Indonesia merupakan target dalam pendudukan Jepang.
Selama pendudukan, Jepang juga bentuk persiapan untuk
kemerdekaan BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan
Indonesia) atau (Dokuritsu JUNBI Chosa-kai?) Dalam bahasa Jepang. Badan ini
bertugas membentuk persiapan untuk pra-kemerdekaan dan membuat dasar negara dan
digantikan oleh PPKI bertugas mempersiapkan kemerdekaan.
6. Cita
– cita ekonomi merdeka
Apakah
pembangunan ekonomi semacam itu yang menjadi cita-cita kita berbangsa? Silahkan
memeriksa cita-cita perekonomian kita ketika para pendiri bangsa sedang
merancang berdirinya negara Republik Indonesia ini.
Bung Hatta pernah berkata, “dalam suatu Indonesia Merdeka
yang dituju, yang alamnya kaya dan tanahnya subur, semestinya tidak ada
kemiskinan. Bagi Bung Hatta, Indonesia Merdeka tak ada gunanya jika mayoritas
rakyatnya tetap hidup melarat. “Kemerdekaan nasional tidak ada artinya, apabila
pemerintahannya hanya duduk sebagai biduanda
dari kapital asing,” kata Bung Hatta. (Pidato Bung Hatta di New York, AS, tahun
1960)
Karena itu, para pendiri bangsa, termasuk Bung Karno dan
Bung Hatta, kemudian merumuskan apa yang disebut “Cita-Cita Perekonomian”. Ada
dua garis besar cita-cita perekonomian kita. Pertama, melikuidasi sisa-sisa
ekonomi kolonial dan feodalistik. Kedua, memperjuangkan terwujudnya masyarakat
adil dan makmur.
Artinya, dengan penjelasan di atas, berarti cita-cita
perekonomian kita tidak menghendaki ketimpangan. Para pendiri bangsa kita tidak
menginginkan penumpukan kemakmuran di tangan segelintir orang tetapi
pemelaratan mayoritas rakyat. Tegasnya, cita-cita perekonomian kita menghendaki
kemakmuran seluruh rakyat.
Supaya cita-cita perekonomian itu tetap menjiwai proses
penyelenggaran negara, maka para pendiri bangsa sepakat memahatkannya dalam
buku Konstitusi Negara kita: Pasal 33 UUD 1945. Dengan demikian, Pasal 33 UUD
1945 merupakan sendi utama bagi pelaksanaan politik perekonomian dan politik
sosial Republik Indonesia.
Dalam pasal 33 UUD 1945, ada empat kunci perekonomian
untuk memastikan kemakmuran bersama itu bisa tercapai. Pertama, adanya
keharusan bagi peran negara yang bersifat aktif dan efektif. Kedua, adanya
keharusan penyusunan rencana ekonomi (ekonomi
terencana). Ketiga, adanya penegasan soal prinsip demokrasi
ekonomi, yakni pengakuan terhadap sistem ekonomi sebagai usaha bersama (kolektivisme). Dan
keempat, adanya penegasan bahwa muara dari semua aktivitas ekonomi, termasuk
pelibatan sektor swasta, haruslah pada “sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
7. Perekonomian Indonesia periode pemerintahan Orde
Lama, Orde Baru dan Reformasi
Pemerintahan Orde Lama (1945 - 1966)
Orde Lama yang dipimpin oleh Presiden Soekarno. Berkuasa
dari tahun 1945 sampai tahun 1966. pada saat orde lama, pemerintahan indonesia
dibagi menjadi 3, sehingga kebijakan ekonomi yang diambil pun berbeda-beda.
Diantaranya:
a.
Pasca Kemerdekaan
Pada
awal kemerdekaan, perekonomian indonesia sangat kacau mulai dari inflasi yang
tidak terkendali ditambah kas negara yang kosong karena tidak adanya pajak dan
bea masuk menjadi salah satu penyebabnya. Latar belakang keadaan yang
kacau tersebut disebabkan oleh :
·
Indonesia
yang baru saja merdeka belum memiliki pemerintahan yang baik, dimana belum ada
pejabat khusus yang bertugas untuk menangani perekonomian Indonesia.
·
Sebagai
negara baru Indonesia belum mempunyai pola dan cara untuk mengatur ekonomi
keuangan yang mantap.
·
peninggalan
pemerintah pendudukan Jepang dimana ekonomi saat pendudukan Jepang memang sudah
buruk akibat pengeluaran pembiayaan perang Jepang. Membuat pemerintah baru
Indonesia agak sulit untuk bangkit dari keterpurukan.
·
Kondisi
keamanan dalam negeri sendiri tidak stabil akibat sering terjadinya pergantian
kabinet, dimana hal tersebut mendukung ketidakstabilan ekonomi.
·
Politik
keuangan yang berlaku di Indonesia dibuat di negara Belanda guna menekan
pertumbuhan ekonomi Indonesia bahkan untuk menghancurkan ekonomi nasional.
·
Belanda
masih tetap tidak mau mengakui kemerdekaan Indonesia dan masih terus melakukan
pergolakan politik yang menghambat langkah kebijakan pemerintah dalam bidang
ekonomi.
Faktor-
faktor penyebab kacaunya perekonomian Indonesia 1945-1950 adalah sebagai berikut :
1.
Terjadi
Inflasi yang sangat tinggi
2.
Adanya
Blokade ekonomi dari Belanda
Blokade oleh Belanda ini
dilakukan dengan menutup (memblokir) pintu keluar-masuk perdagangan RI terutama
melalui jalur laut dan pelabuhan-pelabuhan penting
3.
Kekosongan
kas Negara
Kas Negara mengalami
kekosongan karena pajak dan bea masuk lainnya belum ada sementara pengeluaran
negara semakin bertambah. Penghasilan pemerintah hanya bergantung kepada
produksi pertanian
b. Masa Liberal
Permasalah ekonomi yang
dihadai oleh bangsa Indonesia masih sama seperti sebelumnya. Usaha-usaha yang
dilakukan untuk mengatasi masalah ekonomi, antara lain :
·
Program
Benteng (Kabinet Natsir)
·
Nasionalisasi
De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th
1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi. (Kabinet Sukiman)
·
Sistem
ekonomi Ali (kabinet Ali Sastroamijoyo I) yang diprakarsai Mr Iskak
Cokrohadisuryo
·
Pembatalan
sepihak atas hasil-hasil Konferensi Meja Bundar, termasuk pembubaran Uni
Indonesia-Belanda
·
Gunting
Syarifuddin
c.
Masa Demokrasi Terpimpin
Sebagai akibat
dari dekrit presiden 5 Juli 1959, maka Indonesia menjalankan sistem demokrasi
terpimpin dan struktur ekonomi Indonesia menjurus pada sistem etatisme
(segala-galanya diatur oleh pemerintah) kebijakan-kebijakan ekonomi
1. Devaluasi yang
diumumkan pada 25 Agustus 1959 menurunkan nilai uang sebagai berikut :Uang
kertas pecahan Rp 500 menjadi Rp 50, uang kertas pecahan Rp 1000 menjadi Rp
100, dan semua simpanan di bank yang melebihi 25.000 dibekukan.
2. Pembentukan
Deklarasi Ekonomi (Dekon) untuk mencapai tahap ekonomi sosialis Indonesia
dengan cara terpimpin
3. Devaluasi yang
dilakukan pada 13 Desember 1965 menjadikan uang senilai Rp 1000 menjadi Rp 1.
Sehingga uang rupiah baru mestinya dihargai 1000 kali lipat uang rupiah lama,
tapi di masyarakat uang rupiah baru hanya dihargai 10 kali lipat lebih tinggi.
Maka tindakan pemerintah untuk menekan angka inflasi ini malah meningkatkan
angka inflasi.
Masa
Orde Baru (1966 - 1998)
Struktur
perekonomian Indonesia pada tahun 1950-1965 dalam keadaan kritis. Pada masa
Demokrasi Terpimpin, negara bersama aparat ekonominya mendominasi seluruh
kegiatan ekonomi sehingga mematikan potensi dan kreasi unit-unit ekonomi
swasta. Sehingga, pada permulaan Orde Baru program pemerintah berorientasi pada
usaha penyelamatan ekonomi nasional terutama pada usaha mengendalikan tingkat
inflasi, penyelamatan keuangan negara dan pengamanan kebutuhan pokok
rakyat.
Tindakan pemerintah ini dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650 % setahun. Hal itu menjadi penyebab kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan pemerintah. Secara garis besar, upaya pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa orde baru, pemerintah menempuh cara sebagai berikut :
Tindakan pemerintah ini dilakukan karena adanya kenaikan harga pada awal tahun 1966 yang menunjukkan tingkat inflasi kurang lebih 650 % setahun. Hal itu menjadi penyebab kurang lancarnya program pembangunan yang telah direncanakan pemerintah. Secara garis besar, upaya pemulihan struktur perekonomian dan pembangunan pada masa orde baru, pemerintah menempuh cara sebagai berikut :
1. Stabilisasi dan Rehabilitasi
Ekonomi. Yang dimaksud dengan stabilisasi ekonomi berarti mengendalikan inflasi
agar harga barang-barang tidak melonjak terus. Dan rehabilitasi ekonomi adalah
perbaikan secara fisik sarana dan prasarana ekonomi. Hakikat dari kebijakan ini
adalah pembinaan sistem ekonomi berencana yang menjamin berlangsungnya
demokrasi ekonomi ke arah terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan
Pancasila.
2. Kerja Sama Luar Negeri
3. Pembangunan Nasional
Tujuan Pembangunan nasional
adalah menciptakan masyarakat adil dan makmur yang merata materiil dan
spiritual berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.
Selama
masa Orde Baru terdapat 6 Pelita, yaitu :
Ø Pelita I (1 April 1969 hingga 31
Maret 1974)
-
Menitik
beratkan pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian.
-
Tujuannya
adalah untuk meningkatkan taraf hidup rakyat dan sekaligus meletakkan
dasar-dasar bagi pembangunan dalam tahap berikutnya dengan sasaran dalam bidang
Pangan, Sandang, Perbaikan prasarana, perumahan rakyat, perluasan lapangan
kerja, dan kesejahteraan rohani.
Ø Pelita II (1 April 1974 hingga
31 Maret 1979.)
- Menitik
beratkan pada sektor pertanian dengan meningkatkan insdutri yang mengolah bahan
mentah menjadi bahan baku.
- Sasaran
utamanya adalah tersedianya pangan, sandang,perumahan, sarana dan prasarana,
mensejahterakan rakyat dan memperluas kesempatan kerja.
- pertumbuhan
ekonomi rata-rata mencapai 7% per tahun. Pada awal pemerintahan Orde Baru laju
inflasi mencapai 60% dan pada akhir Pelita I laju inflasi turun menjadi 47%.
Selanjutnya pada tahun keempat Pelita II, inflasi turun menjadi 9,5%.
Ø Pelita III (1 April 1979 hingga 31
Maret 1984.)
Menitikberatkan pada sektor
pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah
bahan baku menjadi barang jadi.
Ø Pelita IV (1 April 1984 hingga 31
Maret 1989.)
- Titik
beratnya adalah sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan
industri yang dapat menghasilkan mesin industri sendiri.
- Terjadi
resesi pada awal tahun 1980 yang berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.
Pemerintah akhirnya mengeluarkan kebijakan moneter dan fiskal sehingga
kelangsungan pembangunan ekonomi dapat dipertahankan.
Ø Pelita V (1 April 1989 hingga 31
Maret 1994.)
- Titik
beratnya pada sektor pertanian dan industri.
- Indonesia
memiki kondisi ekonomi yang cukup baik dengan pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,8
% per tahun.
Ø Pelita VI (1 April 1994 hingga 31
Maret 1999.)
-
Titik
beratnya masih pada pembangunan pada sektor ekonomi yang berkaitan dengan
industri dan pertanian serta pembangunan dan peningkatan kualitas sumber daya
manusia sebagai pendukungnya.
-
Sektor
ekonomi dipandang sebagai penggerak utama pembangunan. Pembangunan nasional
Indonesia dari pelita ke pelita berikutnya terus mengalami peningkatan
keberhasilan pembangunan.
-
Pada
periode ini terjadi krisis moneter yang melanda negara-negara Asia Tenggara
termasuk Indonesia. Karena krisis moneter dan peristiwa politik dalam negeri
yang mengganggu perekonomian menyebabkan rezim Orde Baru runtuh.
Masa
Reformasi (1998 - Sekarang)
Presiden B.J.Habibie
Pada
tanggal 14 dan 15 Mei 1997, nilai tukar baht Thailand terhadap dolar AS
mengalami suatu goncangan hebat akibat para investor asing mengambil keputusan
‘jual’ karena mereka para investor asing tidak percaya lagi terhadap prospek
perekonomian negara tersebut, paling tidak untuk jangka pendek. Pemerintan
Thailand meminta bantuan IMF. Pengumuman itu mendepresiasikan nilai baht
sekitar 15% hingga 20% hingga mencapai nilai terendah, yakni 28,20 baht per
dolar AS.
Apa
yang terjadi di Thailand akhirnya merebet ke Indonesia dan beberapa negara Asia
lainnya. Rupiah Indonesia mulai merendah sekitar pada bulan Juli 1997, dari Rp
2.500 menjadi Rp 2.950 per dolar AS. Nilai rupiah dalam dolar mulai tertekan
terus dan pada tanggal 13 Agustus 1997 rupiah mencapai rekor terendah, yakni Rp
2.682 per dolar AS sebelum akhirnya ditutup Rp 2.655 per dolar AS. Pada tahun
1998, antara bulan Januaru-Februari sempat menembus Rp 11.000 per dolar AS dan
pada bulan Maret nilai rupiah mencapai Rp 10.550 untuk satu dolar AS.
Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki karakteristik sebagai berikut:
Keadaan sistem ekonomi Indonesia pada masa pemerintahan transisi memiliki karakteristik sebagai berikut:
-
Kegoncangan
terhadap rupiah terjadi pada pertengahan 1997, pada saat itu dari Rp 2500
menjadi Rp 2650 per dollar AS. Sejak masa itu keadaan rupiah menjadi tidak
stabil.
-
Krisis
rupiah akhirnya menjadi semakin parah dan menjadi krisis ekonomi yang kemudian
memuncuilkan krisis politik terbesar sepanjang sejarah Indonesia.
-
Pada
awal pemerintahan yang dipimpin oleh Habibie disebut pemerintahan reformasi.
Namun, ternyata pemerintahan baru ini tidak jauh berbeda dengan sebelumnya,
sehingga kalangan masyarakat lebih suka menyebutnya sebagai masa transisi
karena KKN semakin menjadi, banyak kerusuhan.
Yang dilakukan habibie untuk memperbaiki perekonomian indonesia :
Yang dilakukan habibie untuk memperbaiki perekonomian indonesia :
• Merekapitulasi perbankan dan
menerapkan independensi Bank Indonesia agar lebih fokus mengurusi perekonomian.
Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independent berdasarkan UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Dalam rangka mencapai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia didukung oleh 3 (tiga) pilar yang merupakan 3 (tiga) bidang utama tugas Bank Indonesia yaitu :
Bank Indonesia adalah lembaga negara yang independent berdasarkan UU No. 30 Tahun 1999 Tentang Bank Indonesia. Dalam rangka mencapai tujuan untuk mencapai dan memelihara kestabilan nilai rupiah, Bank Indonesia didukung oleh 3 (tiga) pilar yang merupakan 3 (tiga) bidang utama tugas Bank Indonesia yaitu :
o
Menetapkan
dan melaksanakan kebijaksanaan moneter
o
Mengatur
dan menjaga kelancaran sistem pembayaran
o
Mengatur
dan mengawasi Bank
• Melikuidasi beberapa bank
bermasalah.
Likuiditas
adalah kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendeknya.
Pengertian lain adalah kemampuan seseorang atau perusahaan untuk memenuhi
kewajiban atau utang yang segera harus dibayar dengan harta lancarnya.
Banyaknya utang perusahaan swasta yang jatuh tempo dan tak mampu membayarnya
dan pada akhirnya pemerintah mengambil alih bank-bank yang bermasalah dengan
tujuan menjaga kestabilan ekonomi Indonesia yang pada masa itu masih rapuh.
• Menaikan nilai tukar rupiah
Selama
lima bulan pertama tahun 1998, nilai tukar rupiah terhadap dollar AS
berfluktuasi. Selama triwulan pertama, nilai tukar rupiah rata-rata mencapai
sekitar Rp9200,- dan selanjutnya menurun menjadi sekitar Rp8000 dalam bulan
April hingga pertengahan Mei. Nilai tukar rupiah cenderung di atas Rp10.000,-
sejak minggu ketiga bulan Mei. Kecenderungan meningkatnya nilai tukar rupiah
sejak bulan Mei 1998 terkait dengan kondisi sosial politik yang bergejolak.
nilai tukar rupiah menguat hingga Rp. 6500 per dollar AS di akhir masa
pemerintahnnya.
• Mengimplementasikan reformasi ekonomi
yang diisyaratkan oleh IMF.
Presiden
Abdurahman wahid
Dibandingkan
dengan tahun sebelumnya, kondisi perekonomian Indonesia mulai mengarah pada
perbaikan, di antaranya pertumbuhan PDB yang mulai positif, laju inflasi dan
tingkat suku bunga yang rendah, sehingga kondisi moneter dalam negeri juga
sudah mulai stabil.
Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun 1999 mengenai bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.
Hubungan pemerintah dibawah pimpinan Abdurahman Wahid dengan IMF juga kurang baik, yang dikarenakan masalah, seperti Amandemen UU No.23 tahun 1999 mengenai bank Indonesia, penerapan otonomi daerah (kebebasan daerah untuk pinjam uang dari luar negeri) dan revisi APBN 2001 yang terus tertunda.
Politik dan sosial yang tidak stabil
semakin parah yang membuat investor asing menjadi enggan untuk menanamkan modal
di Indonesia.
Makin rumitnya persoalan ekonomi
ditandai lagi dengan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang
cenderung negatif, bahkan merosot hingga 300 poin, dikarenakan lebih banyaknya
kegiatan penjualan daripada kegiatan pembelian dalam perdagangan saham di dalam
negeri.
Pada masa kepemimpinan presiden
Abdurrahman Wahid pun, belum ada tindakan yang cukup berarti untuk
menyelamatkan negara dari keterpurukan. Padahal, ada berbagai persoalan ekonomi
yang diwariskan orde baru harus dihadapi, antara lain masalah KKN (Korupsi,
Kolusi dan Nepotisme), pemulihan ekonomi, kinerja BUMN, pengendalian inflasi,
dan mempertahankan kurs rupiah. Malah presiden terlibat skandal Bruneigate yang
menjatuhkan kredibilitasnya di mata masyarakat.
Presiden Megawati Soekarnoputri
Kebijakan-kebijakan yang ditempuh
untuk mengatasi persoalan-persoalan ekonomi antara lain:
1. Meminta penundaan pembayaran utang
sebesar US$ 5,8 milyar pada pertemuan Paris Club ke-3 dan mengalokasikan
pembayaran utang luar negeri sebesar Rp 116.3 triliun.
2. Kebijakan privatisasi BUMN. Privatisasi
adalah menjual perusahaan negara di dalam periode krisis dengan tujuan
melindungi perusahaan negara dari intervensi kekuatan-kekuatan politik dan
mengurangi beban negara. Hasil penjualan itu berhasil menaikkan pertumbuhan
ekonomi Indonesia menjadi 4,1 %. Namun kebijakan ini memicu banyak kontroversi,
karena BUMN yang diprivatisasi dijual ke perusahaan asing.
Di masa ini juga direalisasikan
berdirinya KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi), tetapi belum ada gebrakan
konkrit dalam pemberantasan korupsi. Padahal keberadaan korupsi membuat banyak
investor berpikir dua kali untuk menanamkan modal di Indonesia, dan mengganggu
jalannya pembangunan nasional.
Presiden Susilo Bambang
Yudhoyono
Pada pemerintahan Susilo Bambang
Yudhoyono (SBY) kebijakan yang dilakukan adalah mengurangi subsidi Negara
Indonesia atau menaikkan harga Bahan Bahan Minyak (BBM), kebijakan bantuan
langsung tunai kepada rakyat miskin akan tetapi bantuan tersebut di berhentikan
sampai pada tangan rakyat atau masyarakat yang membutuhkan, kebijakan
menyalurkan bantuan dana BOS kepada sarana pendidikan yang ada di Negara
Indonesia. Akan tetapi pada pemerintahan SBY dalam perekonomian Indonesia
terdapat masalah dalam kasus bank century yang sampai saat ini belum
terselesaikan bahkan sampai mengeluarkan biaya 93 miliar untuk menyelesaikan
kasus bank century ini.
Kondisi perekonomian pada masa
pemerintahan SBY mengalami perkembangan yang sangat baik. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia tumbuh pesat di tahun 2010 seiring pemulihan ekonomi dunia pasca krisis
global yang terjadi sepanjang 2008 hingga 2009.Bank Indonesia (BI)
memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai 5,5-6 persen pada
2010 dan meningkat menjadi 6 - 6,5 persen pada 2011. Dengan demikian, prospek
ekonomi Indonesia akan lebih baik dari perkiraan semula.
Sementara itu, pemulihan ekonomi global
berdampak positif terhadap perkembangan sektor eksternal perekonomian
Indonesia. Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada triwulan IV - 2009
mencatat pertumbuhan cukup tinggi yakni mencapai sekitar 17 persen dan masih
berlanjut pada Januari 2010. Salah satu penyebab utama kesuksesan perekonomian
Indonesia adalah efektifnya kebijakan pemerintah yang berfokus pada disiplin
fiskal yang tinggi dan pengurangan utang negara. Masalah-masalah besar lain pun
masih tetap ada. Pertama, pertumbuhan makro ekonomi yang pesat belum menyentuh
seluruh lapisan masyarakat secara menyeluruh. Walaupun Jakarta identik dengan
vitalitas ekonominya yang tinggi dan kota-kota besar lain di Indonesia memiliki
pertumbuhan ekonomi yang pesat, masih banyak warga Indonesia yang hidup di
bawah garis kemiskinan.
8. Contoh kasus
Bank Indonesia Keeps Repo Rate Unchanged
TEMPO.CO, Jakarta - The board of
governor’s meeting of Bank Indonesia (BI) has decided to keep the 7-day repo
rate unchanged at 4.75 percent and hold deposit facility rate at 4 percent and
lending facility rate at 5.5 percent.Bank Indonesia’s executive director for
communication department Tirta Segara revealed that the decision is consistent
with BI efforts to maintain macroeconomic and financial system stability amid
global uncertainty. The central bank, however, will continue to have an eye on
several short-term risks, both global and domestic.Global risks include rising
global inflation, US economic and trade policy direction and further effects of
Fed fund rate (FFR) hike as well as geopolitical risks from Europe.Meanwhile,
domestic risks include the impacts of adjustments to administered prices to the
inflation rate. “Therefore, Bank Indonesia constantly optimizes its monetary,
macroprudential and payment system policy mix to preserve macroeconomic and the
financial system stability,” he noted in governor’s meeting announcement on
Thursday, March 16, 2017.Moreover, the central bank will continue to strengthen
coordination with the government and focused on keeping inflation rate within
the expected target and accelerate structural reform programs to support a
sustainable economy.
Analisa :
Bank
Indonesia memutuskan ingin memperahankan presentase suku bunga deposit dan
pinjaman. Upaya Bank Indonesia mempertahankan presentase karena untuk menjaga
stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan di tengah ketidakpastian global.
Di karenakan resiko global akan mengakibatkan inflansi dari kebijakan ekonomi
dan perdagangan AS sementara itu dapat mengakibatkan pula resiko domestik yang
nantinya penyesuaian harga disesuaikan dari angka inflansi,
untuk itu bank indonesia dan pemerintah akan berusaha mengoptimalkan moneter,
makroprudensial dan pembayaran kebijakan sistem untuk melestarikan makro
ekonomi dan stabilitas sistem keuangan. Selain itu Bank Indonesia serta
pemerintah menjaga laju inflansi dibawah target yang diharapkan dan mempercepat
reformasi strukturtual untuk mendukung ekonomi berkelanjutan.
9. Referensi
http://www.gurupendidikan.com/masa-pendudukan-jepang-di-indonesia-1942-1945/http://www.berdikarionline.com/cita-cita-perekonomian/
http://webcache.googleusercontent.com/search?q=cache:bWNmwAXoUOsJ:rowland_pasariu.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/35471/sistem-perekonomianindonesia.pdf+&cd=7&hl=en&ct=clnk&gl=id
http://www.indonesiaindonesia.com/f/2380-indonesia-era-voc
https://id.linkedin.com/pluse/sejarah-perekonomian-indonesia-ahmad-noormuhammad
Anne Booth dan Peter MrCawley (penyuting). Ekonomi Orde
baru