USAHA
KECIL MENENGAH
(UKM)
Kelas : 1EB19
Kelompok
: 3
Disusun
Oleh :
Cornelyus
Agung (21216644)
Eka
Rohyati Ramadani (22216274)
Sinta
Putri Utami (27216062)
Sri
Winarti (28216015)
UNIVERSITAS
GUNADARMA
2017
1. Definisi UKM
Usaha
Kecil Menengah merupakan sebuah istilah yang mengacu ke jenis usaha kecil yang mempunyai kekayaan bersih
paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk
tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut
Keputusan Presiden RI no. 99 tahun 1998
pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang berskala kecil dengan bidang usaha yang
secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil
dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak
sehat.”
·
Usaha
mikro : usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan
yang memenuhi criteria
1. Asset
kurang dari atau sama dengan Rp50 juta
2. Omzet kurang dari atau sama dengan Rp300 juta
·
Usaha
kecil : usaha kecil produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang
perorngan/ badan usah ayang bukan merupakan anak perusahaan/bukan cabang
perusahaan yang dimiliki, dikuasaai, atau menjadi bagian baik langsung maupun
tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi criteria
1. Rp50 juta < Aset < sama
dengan Rp 500 juta
2. RP300 juta < omzet < sama
dengan Rp 2,5 miliar
·
Usaha
menengah : usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh
orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau
cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik
langsung maupun tidak langsung dengan
usaha kecil atau usaha besar yang memenuhi criteria
1. Rp 500 juta < Aset < sama
dengan Rp 2,5 miliar
2. Rp 2,5 miliar < omzet <
sama dengan Rp 50 miliar
2. Perkembangan Jumlah Unit dan Tenag Kerja di
UKM
Meski UKM mampu bertahan di saat krisis moneter namun
pertumbuhannya ternyata melambat setelah krismon. Padahal saat itu diperkirakan
akan lebih cepat. Seperti data yang terdapat pada Worldbank yang menunjukkan
bahwa usaha kecil tumbuh lebih cepat sebelum tahun 1998 dari pada sesudah tahun
1998.Meski begitu dibandingkan dengan negara tetangga lainnya, Indonesia
merupakan negara yang memiliki UKM/UMKM terbesar sejak tahun 2014. Menurut data
BPS 2014, jumlah UMKM di Indonesia memiliki 57,89 juta unit atau 99,99 persen
dari total jumlah pelaku usaha nasional.Berdasarkan Data Kementerian Koperasi
dan UKM, jumlah wirausahawan di Indonesia pun melonjak tajam dari 0,24 persen
menjadi 1,56 persen dari jumlah penduduk. Meski begitu jumlah tersebut masih
jauh dari target wirausaha Indonesia yang harusnya idealnya minimum 2 persen
dari jumlah penduduk.Dan meski secara kuantitas jumlah wirausaha Indonesia
banyak namun secara persentase jumlah tersebut kalah jauh dibandingkan dengan
negara tetangga. Seperti Singapura sebesar tujuh persen, Malaysia lima persen,
dan Thailand empat persen. Sementara negara-negara maju seperti Amerika Serikat
dan Jepang bahkan memiliki jumlah pengusaha lebih dari 10 persen dari jumlah
populasi.Meski masih minim namun survei yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada tahun 2013,
menunjukkan bahwa keinginan berwirausaha masyarakat Indonesia adalah yang kedua
tertinggi di ASEAN setelah Filipina. Perkembangan Tenaga Kerjanya pun Cukup
baik dan meningkat yaitu, Dari sisi serapan tenaga kerja, UMK mampu
menyerap tenaga kerja hingga 57,9 juta di berbagai daerah di Indonesia.
Serapan tenaga kerja pada sektor ini juga meningkat dari 96,99% menjadi 97,22% pada periode yang sama. Kemudian pada tahun 2014, jumlah pelaku UMK di Indonesia mencapai sekitar 57,9 juta
Serapan tenaga kerja pada sektor ini juga meningkat dari 96,99% menjadi 97,22% pada periode yang sama. Kemudian pada tahun 2014, jumlah pelaku UMK di Indonesia mencapai sekitar 57,9 juta
Menurut
BPS, UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja:
§ Usaha
kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang
§ Usaha
menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang
§ Usaha
besar merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja > 99 orang
3. Nilai Output dan Nili Tambah
Keberadaan
UKM di indonesia dalam bentuk Nilai Output sangat berpengaruh besar terhadap
pembentukan atau pertumbuhan PDB, walaupun tidak begitu sebesar penciptaan
kesempatan kerja. Kontribusi Nilai Output atau Nilai Tambah terhadap
pembentukan PDB jauh lebih besar dari Usaha Menengah. Tetapi perbedaan ini
tidak di karnakan tingkat produktivitas Usaha Kecil lebih tinggi daripada Usaha
Menengah, melainkan lebih di dorong oleh jumlah unit dan L yang memang jauh
lebih banyak di Usaha Kecil di bandingkan di Usaha Menengah dan Usaha Besar.
4. Ekspor UKM
Bagi
setiap unit usaha dari semua skala dan semua sektor ekonomi, era perdagangan
bebas dan globalisasi perekonomian dunia di satu sisi akan menciptakan banyak
kesempatan. Namun disisi lain akan menciptakan banyak tantangan yang apabila
tidak dapat dihadapi dengan baik akan menjelma menjadi ancaman. Bentuk
kesempatan dan tantangan yang akan muncul tentu akan berbeda menurut jenis kegiatan
ekonomi yang berbeda. Globalisasi perekonomian dunia juga membesar
ketidakpastian terutama karena semakin tingginya mobilisasi modal,manusia,dan
sumber daya produksi lainnya serta semakin terintegasinya kegiatan produksi,
investasi dan keuangan antar negara yang antara lain dapat menimbulkan gejolak
– gejolak ekonomi di suatu wilayah akibat pengaruh langsung ketidak stabilan
ekonomi di wilayah lain.
5. Prospek UKM dalam Era Perdagangan Bebas dan
Globalisasi Dunia
Era
globalisasi merupakan era perdagangan yang menghilangkan batas wilayah negara,
sehingga bagi setiap negara terutama para pelaku bisnis baik pada tingkat mikro, kecil, menengah maupun besar
era tersebut mendatangkan suatu
kesempatan dan sekaligus ancaman. Globalisasi perekonomian dunia juga
meningkatkan ketidakpastian sebagai akibat dari meningkatnya mobilisasi sumber
daya manusia, teknologi, kapital dan semakin terintegrasinya investasi, lembaga
keuangan, dan kegiatan produksi, sehingga menimbulkan gejolak ekonomi suatu
wilayah sebagai akibat dari pengaruh ketidakstabilan wilayah lain.
Untuk
mengetahui kesiapan UKM dalam menghadapi era globalisasi, maka perlu diketahui:
1.
Sifat
alami UKM
Jumlah
UKM di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemampuan UKM dalam
menghadapi krisis disebabkan oleh sifat alami dari UKM yakni di banyak LDCS UKM
didominasi oleh unit usaha tradisional yang dapat dibangun dengan modal yang
kecil dengan organisasi yang sederhana,UKM memproduksi produk konsumsi
sederhana (berteknologi rendah dan TK dengan ketrampilan rendah) bagi konsumen
kelas rendah, UKM tidak bergantung kepada fasilitas pemerintah seperti kredit
murah. Kondisi ini menyebabkan UKM di Indonesia memiliki daya saing yang rendah
dibandingkan dengan UKM Jepang, Korea dan Taiwan. Ketangguhan UKM dalam
menghadapi krisis juga dijelaskan bahwa secara structural, gejolak ekonomi
mempengaruhi suatu usaha melalui demand dan supply
v Supply side Saat krisis banyak pebisnis
bangkrut terutama yang berbahan baku impor sebagai akibat dari kenaikan biaya
bahan baku impor (kurs rupiah melemah) dan kesulitan akses kredit ke bank.
Semakin tinggi ketergantungan suatu unit bisnis terhadap lembaga nasional
seperti bahan baku, maka semakin tinggi risiko terkena gejolak ekonomi. Krisis
berdampak positif terhadap pertumbuhan UKM melalui pasar tenaga Kerja . Jumlah
tenaga kerja yang di diPHK semakin besar, sehingga untuk menyambung hidup
mereka mendirikan usaha sendiri sebagai tempat untuk memperoleh penghasilan.
Hal ini memunculkan hipotesis bahwa semakin banyak jumlah penduduk miskin, maka
semakin pesat pertumbuhan UKM
v Demand side Dampak krisis ekonomi adalah
menurunnya pendapatan riil masyarakat baik untuk konsumsi produk dalam negeri
maupun produk impor. UKM didominasi oleh usaha-usaha tradisional yang
memproduksi produk sederhana/inferior yakni produk dengan elastisitas
pendapatan dari permintaan yang negatif dan positif yang lebih kecil dari satu
(jika pendapatan naik atau turun, maka demand produk tersebut turun atau naik
dengan % yang lebih kecil. Selama krisis telah terjadi transformasi dari produk
yang dihasilkan oleh usaha besar ke produk yang dihasilkan oleh UKM.
2.Kemampuan UKM
Tiga
faktor yang menjadi penentu kemenangan dalam persaingan di era perdagangan
bebas dan globalisasi:
v Kemajuan teknologi
v Penguasaan ilmu pengetahuan
v Kualitas SDM
Dalam
rangka meningkatkan keunggulan bersaing di pasar lokal dan internasional,maka
para pebisnis UKM harus didorong untuk memiliki ketiga faktor tersebut.
6. Contoh Kasus
Online
Marketing Key Feature to Propel SME Performance : Ministry
The
Industry Ministry has highlighted the importance of online marketing in
propelling the sales of small and medium enterprises (SMEs) over the past
several years.
“We
want to keep encouraging this [online marketing] because if the income goes up,
so does productivity and the number of workers,” the ministry's director
general for SMEs, Gati Wibawaningsih, said Tuesday in a statement.
The
ministry previously launched the SME e-Smart program, which involves several
online marketplaces, to accommodate prospective SME players to market their
products in the cyber-world.
According
to the ministry, SMEs have been able to constantly increase the added value of
local products in recent years, from Rp 373 trillion (US$27.9 billion) in 2014
to Rp 520 trillion last year.
“To
boost the productivity and competitiveness of SMEs, we plan to offer several
facilities for them this year, such as product development, machinery and
equipment restructuration, and various promotions and exhibitions as well,”
Gati went on.
A
2015 Central Statistics Agency (BPS) survey of manufacturing micro and small
enterprises shows that credit flowing to small enterprises has been fairly
limited. For example, an overwhelming number of small enterprises (81.4
percent) use their own capital for investing. Among those that borrow, only 38
percent have bank loans. Overall, close to 39 percent of micro and small enterprises
consider access to finance a major constraint.
Analisis:
With
the rise of online business or E-commers, the Ministry of Industry has
highlighted the importance of online marketing in encouraging the sales of
small and medium enterprises (SMEs) over the past few years. The ministry
previously launched the e-Smart SME program, which involves several online
markets, to accommodate prospective SME actors to market their products in
cyberspace. SMEs have been able to continue to increase the value-added of
local products in recent years. To improve the productivity and competitiveness
of SMEs, the Government plans to offer several facilities for them this year,
such as product development, machinery and equipment restructuring, and various
promotions and exhibitions as well. A 2015 State-Owned Enterprise (SOE) survey
of micro and small enterprises shows that credits flowing to small businesses
are limited.
Referensi :
Dr.Sony
Warsono, dkk. 2010. AKUNTANSI UMKM ternyata
mudah DIPAHAMI & DIPRAKTIKAN. Yogyakarta: ASGARD CHAPTER.