Selasa, 25 April 2017

Usaha Kecil Menengah (UKM)

USAHA KECIL MENENGAH
(UKM)

Kelas                   : 1EB19
Kelompok            : 3


Disusun Oleh :
Cornelyus Agung                            (21216644)
Eka Rohyati Ramadani                  (22216274)
Sinta Putri Utami                              (27216062)
Sri Winarti                             (28216015)









UNIVERSITAS GUNADARMA
2017

1.   Definisi UKM
Usaha Kecil Menengah merupakan sebuah istilah yang mengacu ke jenis  usaha kecil yang mempunyai kekayaan bersih paling banyak Rp 200.000.000 tidak termasuk  tanah dan bangunan tempat usaha. Dan usaha yang berdiri sendiri. Menurut Keputusan  Presiden RI no. 99 tahun 1998 pengertian Usaha Kecil adalah: “Kegiatan ekonomi rakyat yang  berskala kecil dengan bidang usaha yang secara mayoritas merupakan kegiatan usaha kecil  dan perlu dilindungi untuk mencegah dari persaingan usaha yang tidak sehat.”
·         Usaha mikro : usaha produktif milik orang perorangan dan/atau badan usaha perorangan yang memenuhi criteria
1.      Asset  kurang dari atau sama dengan Rp50 juta
2.      Omzet kurang dari atau sama dengan Rp300 juta

·         Usaha kecil : usaha kecil produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perorngan/ badan usah ayang bukan merupakan anak perusahaan/bukan cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasaai, atau menjadi bagian baik langsung maupun tidak langsung dari usaha menengah atau usaha besar yang memenuhi criteria
1.      Rp50 juta < Aset < sama dengan Rp 500 juta
2.      RP300 juta < omzet < sama dengan Rp 2,5 miliar

·         Usaha menengah : usaha ekonomi produktif yang berdiri sendiri, yang dilakukan oleh orang perseorangan atau badan usaha yang bukan merupakan anak perusahaan atau cabang perusahaan yang dimiliki, dikuasai atau menjadi bagian baik langsung  maupun tidak langsung dengan usaha kecil atau usaha besar yang memenuhi criteria
1.      Rp 500 juta < Aset < sama dengan Rp 2,5 miliar
2.      Rp 2,5 miliar < omzet < sama dengan Rp 50 miliar

2.   Perkembangan Jumlah Unit dan Tenag Kerja di UKM
Meski UKM  mampu bertahan di saat krisis moneter namun pertumbuhannya ternyata melambat setelah krismon. Padahal saat itu diperkirakan akan lebih cepat. Seperti data yang terdapat pada  Worldbank yang menunjukkan bahwa usaha kecil tumbuh lebih cepat sebelum tahun 1998 dari pada sesudah tahun 1998.Meski begitu dibandingkan dengan  negara tetangga lainnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki UKM/UMKM terbesar sejak tahun 2014. Menurut data BPS 2014, jumlah UMKM di Indonesia memiliki 57,89 juta unit atau 99,99 persen dari total jumlah pelaku usaha nasional.Berdasarkan Data Kementerian Koperasi dan UKM, jumlah wirausahawan di Indonesia pun melonjak tajam dari 0,24 persen menjadi 1,56 persen dari jumlah penduduk. Meski begitu jumlah tersebut masih jauh dari target wirausaha Indonesia yang harusnya idealnya minimum 2 persen dari jumlah penduduk.Dan meski secara kuantitas jumlah wirausaha Indonesia banyak namun secara persentase jumlah tersebut kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga. Seperti Singapura sebesar tujuh persen, Malaysia lima persen, dan Thailand empat persen. Sementara negara-negara maju seperti Amerika Serikat dan Jepang bahkan memiliki jumlah pengusaha lebih dari 10 persen dari jumlah populasi.Meski masih minim namun survei yang dilakukan oleh Global Entrepreneurship Monitor (GEM) pada tahun 2013, menunjukkan bahwa keinginan berwirausaha masyarakat Indonesia adalah yang kedua tertinggi di ASEAN setelah Filipina. Perkembangan Tenaga Kerjanya pun Cukup baik dan meningkat yaitu, Dari sisi serapan tenaga kerja, UMK mampu menyerap tenaga kerja hingga 57,9 juta di berbagai daerah di Indonesia.
Serapan tenaga kerja pada sektor ini juga meningkat dari 96,99% menjadi 97,22% pada periode yang sama. Kemudian pada tahun 2014, jumlah pelaku UMK di Indonesia mencapai sekitar 57,9 juta
Menurut BPS, UKM berdasarkan kunatitas tenaga kerja:
§  Usaha kecil merupakan entitas usaha yang memiliki jumlah tenaga kerja 5 s.d 19 orang
§  Usaha menengah merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja 20 s.d. 99 orang
§  Usaha besar merupakan entitias usaha yang memiliki tenaga kerja > 99 orang

3.   Nilai Output dan Nili Tambah
Keberadaan UKM di indonesia dalam bentuk Nilai Output sangat berpengaruh besar terhadap pembentukan atau pertumbuhan PDB, walaupun tidak begitu sebesar penciptaan kesempatan kerja. Kontribusi Nilai Output atau Nilai Tambah terhadap pembentukan PDB jauh lebih besar dari Usaha Menengah. Tetapi perbedaan ini tidak di karnakan tingkat produktivitas Usaha Kecil lebih tinggi daripada Usaha Menengah, melainkan lebih di dorong oleh jumlah unit dan L yang memang jauh lebih banyak di Usaha Kecil di bandingkan di Usaha Menengah dan Usaha Besar.

4.   Ekspor UKM
Bagi setiap unit usaha dari semua skala dan semua sektor ekonomi, era perdagangan bebas dan globalisasi perekonomian dunia di satu sisi akan menciptakan banyak kesempatan. Namun disisi lain akan menciptakan banyak tantangan yang apabila tidak dapat dihadapi dengan baik akan menjelma menjadi ancaman. Bentuk kesempatan dan tantangan yang akan muncul tentu akan berbeda menurut jenis kegiatan ekonomi yang berbeda. Globalisasi perekonomian dunia juga membesar ketidakpastian terutama karena semakin tingginya mobilisasi modal,manusia,dan sumber daya produksi lainnya serta semakin terintegasinya kegiatan produksi, investasi dan keuangan antar negara yang antara lain dapat menimbulkan gejolak – gejolak ekonomi di suatu wilayah akibat pengaruh langsung ketidak stabilan ekonomi di wilayah lain.
5.   Prospek UKM dalam Era Perdagangan Bebas dan Globalisasi Dunia
Era globalisasi merupakan era perdagangan yang menghilangkan batas wilayah negara, sehingga bagi setiap negara terutama para pelaku bisnis baik pada  tingkat mikro, kecil, menengah maupun besar era  tersebut mendatangkan suatu kesempatan dan sekaligus ancaman. Globalisasi perekonomian dunia juga meningkatkan ketidakpastian sebagai akibat dari meningkatnya mobilisasi sumber daya manusia, teknologi, kapital dan semakin terintegrasinya investasi, lembaga keuangan, dan kegiatan produksi, sehingga menimbulkan gejolak ekonomi suatu wilayah sebagai akibat dari pengaruh ketidakstabilan wilayah lain.
Untuk mengetahui kesiapan UKM dalam menghadapi era globalisasi, maka perlu diketahui:
1.      Sifat alami UKM
Jumlah UKM di Indonesia terus meningkat dari tahun ke tahun. Kemampuan UKM dalam menghadapi krisis disebabkan oleh sifat alami dari UKM yakni di banyak LDCS UKM didominasi oleh unit usaha tradisional yang dapat dibangun dengan modal yang kecil dengan organisasi yang sederhana,UKM memproduksi produk konsumsi sederhana (berteknologi rendah dan TK dengan ketrampilan rendah) bagi konsumen kelas rendah, UKM tidak bergantung kepada fasilitas pemerintah seperti kredit murah. Kondisi ini menyebabkan UKM di Indonesia memiliki daya saing yang rendah dibandingkan dengan UKM Jepang, Korea dan Taiwan. Ketangguhan UKM dalam menghadapi krisis juga dijelaskan bahwa secara structural, gejolak ekonomi mempengaruhi suatu usaha melalui demand dan supply
v  Supply side Saat krisis banyak pebisnis bangkrut terutama yang berbahan baku impor sebagai akibat dari kenaikan biaya bahan baku impor (kurs rupiah melemah) dan kesulitan akses kredit ke bank. Semakin tinggi ketergantungan suatu unit bisnis terhadap lembaga nasional seperti bahan baku, maka semakin tinggi risiko terkena gejolak ekonomi. Krisis berdampak positif terhadap pertumbuhan UKM melalui pasar tenaga Kerja . Jumlah tenaga kerja yang di diPHK semakin besar, sehingga untuk menyambung hidup mereka mendirikan usaha sendiri sebagai tempat untuk memperoleh penghasilan. Hal ini memunculkan hipotesis bahwa semakin banyak jumlah penduduk miskin, maka semakin pesat pertumbuhan UKM

v  Demand side Dampak krisis ekonomi adalah menurunnya pendapatan riil masyarakat baik untuk konsumsi produk dalam negeri maupun produk impor. UKM didominasi oleh usaha-usaha tradisional yang memproduksi produk sederhana/inferior yakni produk dengan elastisitas pendapatan dari permintaan yang negatif dan positif yang lebih kecil dari satu (jika pendapatan naik atau turun, maka demand produk tersebut turun atau naik dengan % yang lebih kecil. Selama krisis telah terjadi transformasi dari produk yang dihasilkan oleh usaha besar ke produk yang dihasilkan oleh UKM.

2.Kemampuan UKM
Tiga faktor yang menjadi penentu kemenangan dalam persaingan di era perdagangan bebas dan globalisasi:
v  Kemajuan teknologi
v  Penguasaan ilmu pengetahuan
v  Kualitas SDM
Dalam rangka meningkatkan keunggulan bersaing di pasar lokal dan internasional,maka para pebisnis UKM harus didorong untuk memiliki ketiga faktor tersebut.
6.   Contoh Kasus
Online Marketing Key Feature to Propel SME Performance : Ministry
The Industry Ministry has highlighted the importance of online marketing in propelling the sales of small and medium enterprises (SMEs) over the past several years.
“We want to keep encouraging this [online marketing] because if the income goes up, so does productivity and the number of workers,” the ministry's director general for SMEs, Gati Wibawaningsih, said Tuesday in a statement.
The ministry previously launched the SME e-Smart program, which involves several online marketplaces, to accommodate prospective SME players to market their products in the cyber-world.
According to the ministry, SMEs have been able to constantly increase the added value of local products in recent years, from Rp 373 trillion (US$27.9 billion) in 2014 to Rp 520 trillion last year.
“To boost the productivity and competitiveness of SMEs, we plan to offer several facilities for them this year, such as product development, machinery and equipment restructuration, and various promotions and exhibitions as well,” Gati went on.
A 2015 Central Statistics Agency (BPS) survey of manufacturing micro and small enterprises shows that credit flowing to small enterprises has been fairly limited. For example, an overwhelming number of small enterprises (81.4 percent) use their own capital for investing. Among those that borrow, only 38 percent have bank loans. Overall, close to 39 percent of micro and small enterprises consider access to finance a major constraint.

Analisis:
With the rise of online business or E-commers, the Ministry of Industry has highlighted the importance of online marketing in encouraging the sales of small and medium enterprises (SMEs) over the past few years. The ministry previously launched the e-Smart SME program, which involves several online markets, to accommodate prospective SME actors to market their products in cyberspace. SMEs have been able to continue to increase the value-added of local products in recent years. To improve the productivity and competitiveness of SMEs, the Government plans to offer several facilities for them this year, such as product development, machinery and equipment restructuring, and various promotions and exhibitions as well. A 2015 State-Owned Enterprise (SOE) survey of micro and small enterprises shows that credits flowing to small businesses are limited.
Referensi :


Dr.Sony Warsono, dkk. 2010. AKUNTANSI UMKM ternyata mudah DIPAHAMI & DIPRAKTIKAN. Yogyakarta: ASGARD CHAPTER.